Home » » Nasionalis dan Hedonis, anak kandung Orientalis

Nasionalis dan Hedonis, anak kandung Orientalis

    Oleh : Mayang Indah


Berbagai permasalahan yang terjadi di penjuru tanah islam saat ini adalah bentuk ujian yang sejatinya kita semua rasakan. Bukan Negara yang sedang terlibat konflik secara fisik seperti: Suriah, Mesir dan wilayah Timur Tengah lainnya, namun untuk seluruh ummat islam. Meskipun terkadang muncul celotehan akan nasib Negara ini (red: Indonesia)  yang belum terselesaikan. 

Celotehan ini tidak bisa kita katakan salah, namun hanya saja belum benar. Sejatinya kaum orientalis  telah menancapkan kuku dan taringnya dalam tubuh kaum muslimin bersamaan  dengan ajaran nasionalismenya, sehingga mereka mengkerdilkan diri mereka sendiri dengan spekulasi yang mengatakan bahwa Negara memilki tugas dan kewajibanya masing-masing. Dan Sebut saja misalnya   Indonesia yang saat ini sedang mengalami gonjang-ganjing politik ataupun Negara suriah yang sedang berperang serta Kudeta Mesir yang terus bergulir dengan aksi para rakyat yang pro terhadap Mursi. Ataukah nasib saudara kita Ronghiya yang tak jelas bagaimana penyelesainya.

Namun, ternyata dalam membangun kesadaran akan kepedulian terhadap sesama hanya sedikit sekali. Kita terlalu terbuai akan dunia, dan hanya mencari dalam bentuk materi, tanpa bagaimana memikiran nasib bangsa, saudara seakidah kita. Kita masih disibukkan dengan materi esok dan nanti. Ketakutan akan kehabisan harta kekayaan dan jabatan yang menggiurkan, yang merupakan bentuk anak kandung dari kapitalisme barat sehingga banyak sekali lahir hedoner-hedoner di dunia ini. Ajaran hedonisme pun mulai menggurita dengan dibungkus dengan kemasan yang cantik dan indah, berkembang dengan bau merekah bunga musim semi. Padahal bunga-bunga itu sejatinya bunga busuk dan memberikan suntikan racun bai yang mencium wangi dan memetiknya. Kita tidak pernah merasakan bagimana nasib saudara-saudara kita yang kelaparan, ditambah dengan ketakutan akan nasib dan nyawa mereka.  Maka sudah selayaknya kita memahami makna surat cinta dalam Al-Imran :112
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”  
Benar adanya, bahwa pasca dari runtuhnya Turki Utsmani pada tahun 1924, Negara-negara Islam kehilangan kiblatnya. Negara Islam mulai mengekor pada barat dan menjadi hamba bagi barat. Hingga mereka dengan mudah untuk mengkebiri Negara-negara islam dan dengan mudah menghancurkannya.
Dinasti Abbasiyah merupakan Dinasi yang sangat terkenal akan masa kejayaannya. Dan di sinilah pesona Islam lahir dengan cemerlang. Peradaban yang maju dan kokoh. Namun akhirnya Dinasti ini runtuh pula. Tentu akan menjadi sebuah aksioma dan spekluasi yang menimbulakn pertanyaan akan keruntuhan Dinasti ini..

Boleh jadi teman-teman sudah mengetahui penyebab dari runtuhnya dinasti utsmani , yang mana jawaban relative tentang minimnya kecakapan pemimpin terakhir dari Dinasti Abbasiyah. Hingga berujung pada serangan dari Dinasti Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Namun ternyata, permasalahan itu bisa dikatakan hanya sebagian kecil saja. Ada hal lain yang jauh lebih penting akan cerita runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Yakni keruntuhan Dinasti ini diawali dengan lahirnya paham-paham baru dari Yunani,  yang mana di kirimnya Hunain bin Ishaq ke wilayah Sicilia yang penduduk dan pemimpinnya beragama Krsiten. Hunain yang diutus langsung oleh Khalifah Al-Makmun diutus untuk menterjemahkan Sophisme Yunani.
Muthran Agung, selaku penguasa dari Sicilia pun memberikan Buku-buku yang berisi ajaran Yunani, dan ia mengatakan bahwa “Tidaklah buku-buku ini masuk dalam suatu bangsa, kecuali pasti akan merusaknya”
Hunain yang diberikan upah emas seberat buku yang ia terjemahkan, maka dengan giat lah ia menterjamahkan buku-buku dari Yunani tersebut. (Al Wala wal Bara fi Islam: 102)
Dari titik inilah, jiwa kaum muslim digrogoti oleh paham barat dengan mudah. Yang mana orientalis melahirkan kapitalis, begitupun kapitalis yang suskes melahirkan nasionalis dan hedonis. Mereka oreintalis meraup untung besar akan kesuksesan ini, hingga ummat islam banyak yang terjebak dan menjadi budag bagi oreintalis.  
Buku Rujukan : Al Wala wal Bara Fi Islam..

           

0 komentar:

Posting Komentar